Danau Asmara, Pesona Tersembunyi di Desa Waibao

[caption id="attachment_838" align="aligncenter" width="1000"] Danau Asmara yang sunyi dan tenang (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)[/caption]

Seusai menghadiri pelepasan pebalap Tour de Flores 2016 di Larantuka, rasanya tidak afdol bila sudah jauh-jauh ke Nusa Tenggara Timur tidak menikmati wisata alamnya. Ketika itu saya dan rombongan berencana menuju Danau Asmara yang terletak di Kecamatan Tanjung Bunga, Desa Waibao. Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Larantuka.

Meski jauh dari ibukota Kabupaten Flores Timur, Danau Asmara terkenal dengan pemandangan alam yang cantik, tapi sayangnya masih jarang dikunjungi oleh wisatawan. Bahkan bila kita mencarinya di media online masih sedikit cerita wisata yang bisa didapatkan. Maka dari itu kami memutuskan menuju Danau Asmara untuk melihat seberapa besar potensi danau ini menjadi tempat wisata yang bernilai ekonomi.

Perjalanan dari Larantuka awalnya biasa-biasa saja, namun ketika memasuki desa jalan-jalan rusak mulai menghadang mobil kami. Di pedesaan jalanan masih berupa tanah dan berbatu, tak jarang lubang yang menganga memaksa mobil kami untuk berjalan lebih pelan agar tetap stabil. Sepanjang jalan menuju danau hati saya sempat teriris, saya melihat para penduduk setempat berjalan kaki menenteng kayu bakar dan jerigen air. Kabarnya daerah sini sangat susah untuk memperoleh air bersih, darimana mereka mendapatnya saya tidak tahu, karena mobil kami masih terus berjalan. Terkadang saya juga melihat anak-anak dan orang tua paruh baya berjalan kaki mengangkat kayu bakar.

[caption id="attachment_836" align="aligncenter" width="629"]Kondisi jalan yang berbatu menuju Danau Asmara (Foto: Lastboy Tahara Sinaga) Kondisi jalan yang berbatu menuju Danau Asmara (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)[/caption]

Rumah-rumah di sepanjang jalan juga hanya berdinding bambu dengan atap daun-daun kering yang disusun rapat. Tidak ada saluran listrik di sini. Hanya saja ada beberapa rumah yang memiliki panel surya kecil di atapnya, mungkin itu hanya cukup untuk menyalakan lampu di malam hari. Lampu jalan pun saya tidak melihatnya, tidak terbayang bagaimana suasana desa ini ketika malam tiba.

Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari Larantuka, akhirnya saya dan rombongan sampai di lokasi Danau Asmara. Untuk menuju danau saya harus menuruni jalan setapak yang lumayan curam. Kondisi jalan yang berbatu dan diapit oleh semak belukar membuat saya sulit untuk bergerak cepat, salah langkah bisa terpeleset. Banyaknya tumbuhan di area danau juga membuat suasana terasa sangat lembab, jalanan berbatu yang ditumbuhi lumut menjadi licin untuk ditapaki.

[caption id="attachment_837" align="aligncenter" width="629"]Menuruni jalan setapak dengan dikelilingi semak-semak dan pepohonan (Foto: Lastboy Tahara Sinaga) Menuruni jalan setapak dengan dikelilingi semak-semak dan pepohonan (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)[/caption]

Perjuangan yang melelahkan untuk menuruni jalan setapak ternyata membuahkan hasil, di depan saya akhirnya terpampang Danau Asmara yang dikelilingi pepohonan hijau yang rimbun. Tak ada suara apa pun selain daun yang gemerisik ditiup angin, danau ini benar-benar sunyi. Airnya yang tenang dan berkilau membuat danau ini semakin cantik, seperti gadis pendiam yang anggun.

[caption id="attachment_838" align="aligncenter" width="629"]Danau Asmara yang sunyi dan tenang (Foto: Lastboy Tahara Sinaga) Danau Asmara yang sunyi dan tenang (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)[/caption]

Berdasarkan literatur yang saya baca, nama danau ini awal mulanya bukan bernama Danau Asmara, melainkan Waibelen. Kata “Wai” artinya “air” dan “Belen” artinya “Besar”, bila diterjemahkan menjadi “air yang besar”. Nama Danau Asmara mulai muncul kira-kira pada tahun 1974, sesuai dengan namanya ada kisah asmara dibalik pemberian nama ini. Ketika itu ada sepasang kekasih yang memiliki pertalian keluarga nekat meneruskan hubungan tersebut. Karena tak mau dilarang, mereka akhirnya menenggelamkan diri ke tengah danau dengan tangan terikat. Jadilah penduduk setempat menamainya dengan Danau Asmara.

Untuk melihat Danau Asmara saya hanya berpijak pada tanah yang dialasi rerumputan. Berdiam diri sejenak untuk menikmati pemandangan, sambil merasakan semilir angin yang mengusap peluh. Suasana danau yang sunyi membuat hati saya merasa tenang dan tentram. Pepohonan hijau yang mengelilingi danau juga menambah nuansa sejuk.

Namun sayang, danau seindah ini belum ada tempat khusus bagi wisatawan untuk menikmati pemandangan dan beristirahat. Saya misalnya, harus berdiri beralaskan tanah yang sempit dan dikelilingi oleh semak belukar. Sehingga bila ingin menikmati keindahan danau, harus saling bergantian agar tidak terlalu dekat dengan air danau. Karena kita tidak tahu seberapa dalam danau itu dan bagaimana struktur tanah di dalamnya.

[caption id="attachment_840" align="aligncenter" width="629"]Semak-semak di sekeliling saya (Foto: Lastboy Tahara Sinaga) Semak-semak di sekeliling saya (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)[/caption]

Saya harap pemerintah dapat mengembangkan Danau Asmara sebagai tempat wisata. Karena saya melihat danau ini memiliki potensi untuk menjadi tempat wisata yang besar, dengan keindahan alam dan unsur hayatinya. Mungkin pemerintah bisa memulai dengan memperbaiki jalan raya menuju danau, memasukkan listrik, dan membuat saluran air bersih ke desa-desa. Wilayah sekitar danau juga perlu dikembangkan dengan membangun fasilitas untuk wisatawan seperti penginapan, toilet umum, sarana transportasi yang memadai, dan yang lainnya.

Masih banyak memang yang perlu dikerjakan, tapi bila pemerintah berhasil mengembangkan Danau Asmara sebagai tempat wisata dan gencar melakukan promosi, akan banyak orang yang berkunjung ke Danau Asmara. Dan secara perlahan desa-desa di sekitar danau akan mengalami peningkatan ekonomi. Rakyat menjadi sejahtera dan dapat hidup dengan makmur.

Comments

  1. aduh indahnya ya , danau dengan air yg tenang, kebayang duduk di sana sambil bikin puisi

    ReplyDelete
  2. wahhh keren danaunya, cocok ini untuk wahana wisata, harus di kembangkan ini

    ReplyDelete
  3. Benar mas, pemerintah setempat harus mengembangkan Danau Asmara menjadi tempat wisata yang bernilai ekonomis

    ReplyDelete
  4. Iya mbak Hastira, selain airnya yang tenang, Danau Asmara memiliki keindahan alam yang alami. Masih banyak pohon-pohon rimbun yang mengelilingi Danau. Terima kasih sudah membaca ya

    ReplyDelete
  5. Iya ya mas.. Cakeeep danaunya. Sayang kalo ga dikembangin ama pemerintah daerahnya.. :).. Msh bnyk sih tempat2 wisata di indonesia yg cakep2 bgini tp akses kesananya ampuuun susah -_- . Sayang bgt sebenernya.. Pdhl kalo dijadiin objek wisata, bakal bnyk wisatawan2 yg dtg, trutama dari luar.. Kurang cakep apa sih tempat wisata kita :)

    ReplyDelete
  6. Benar mbak, semoga pemerintah daerah dapat mengembangkan Danau Asmara menjadi tempat wisata unggulan di NTT

    ReplyDelete

Post a Comment