Pengaruh Iklan Makanan di Televisi terhadap Kesehatan Anak

Dunia Televisi saat ini menyajikan beragam tayangan televisi untuk anak-anak, mulai dari film animasi terkenal produksi luar negeri atau dalam negeri. Tapi dari beragam acara televisi yang menarik untuk anak-anak saat ini ternyata masih kalah mengasyikkan dengan iklan makanan di televisi.

Bagaimana tidak, iklan memang diciptakan sangat menggoda untuk anak-anak dengan tampilan yang ekspresif, lagu yang ceria, dan penggunaan kalimat yang sangat akrab bagi anak-anak sehingga mudah dipahami.

Pengamatan YPMA (2010) menemukan bahwa terdapat lebih dari 30 sisipan iklan produk dalam sebuah tayangan anak yang panjangnya 30 menit (Majalah Kidia 2010, hal 3). Jadi bisa diartikan bahwa untuk tayangan anak dengan durasi 30 menit ternyata untuk isinya hanya 20 menit dan sisanya adalah iklan dengan durasi 10 menit. Itu untuk program biasa, bila semakin favorit program maka iklan yang ditampilkan akan semakin banyak.

Anak tidak sadar bahwa mereka sedang menonton iklan yang cukup banyak saat mereka menyaksikan film favorit mereka, karena pada umumnya iklan juga menampilkan sosok tokoh favorit mereka. Milton Chen dalam bukunya ‘Anak-anak dan Televisi’ mengatakan bahwa acara-acara TV komersial yang kita saksikan hanyalah umpan untuk mendekatkan kita pada iklan. (Majalah Kidia 2010, hal 3)

Dari berbagai informasi di atas dapat disimpulkan bahwa anak-anak adalah target paling empuk yang disasar oleh iklan. Bila anak sering terpapar oleh iklan, apakah dapat mempengaruhi kesehatannya?

Saat ini iklan produk makanan sangat banyak di Televisi dan hal ini juga berpengaruh terhadap perilaku anak terhadap makanan yang dimakan. The Institute of Medicine menyatakan bahwa “Iklan di TV sangat mempengaruhi apa yang dimakan oleh anak-anak berusia di bawah 12 tahun (Majalah Kidia, Februari-April 2010, hal 4).

Sebenarnya iklan untuk produk makanan tidak masalah ditayangkan, tapi yang mengkhawatirkan saat ini adalah banyak iklan produk makanan yang tidak sehat seperti kurang muatan gizi, memiliki kandungan garam dan lemak yang tinggi, MSG, dan yang lebih parah lagi adalah banyaknya iklan produk makanan cepat saji yang sangat tidak baik untuk kesehatan.

Satu kasus yang terdapat di majalah Kidia edisi Februari-April 2010 hal 16 memberikan informasi bahwa di Inggris, sejumlah iklan makanan cepat saji diduga mengganggu kesehatan anak, karena membentuk perilaku makan yang tidak sehat. Gerai makanan cepat saji juga kerap menonjolkan barang-barang hadiahnya yang lucu-lucu, bukan makananya.

Dari sini lah bisa dinilai bahwa anak menjadi korban, karena anak-anak pada umumnya membeli sesuatu bukan karena makanannya tapi karena hadiahnya. Saya rasa semua masyarakat di Indonesia juga tahu bahwa banyak iklan makanan cepat saji yang menggunakan strategi yang sama. Media massa di Indonesia juga masih sedikit yang memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya iklan pada kesehatan anak.

Bila tidak ada media massa yang memberikan edukasi untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif iklan, apa yang bisa dilakukan masyarakat? Kita bisa mulai dari yang paling dekat, yaitu orang tua yang sering berinteraksi dengan anak. Orang tua bisa mengajak putra-putrinya untuk kritis terhadap iklan saat sedang menonton TV bersama, dengan melakukan pembicaraan yang sederhana dengan anak-anak. Ajak anak-anak untuk menilai apakah iklan yang mereka lihat itu masuk akal atau tidak.

Dan yang terakhir adalah orang tua jangan terlalu memanjakkan anak dengan membelikan makanan yang diinginkan anak di TV. Orang tua harus memberikan pemahaman kepada anak tentang makanan apa saja yang dapat merusak tubuh dan mana makanan yang aman untuk dikonsumsi secara terus menerus, tentunya edukasi yang diberikan kepada anak haruslah dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Masyarakat juga bisa melakukan inisiatif untuk memberikan saran kepada pemerintah tentang pembuatan aturan spesifik tentang iklan dalam tayangan anak. Saat ini Indonesia belum memiliki aturan spesifik tentang iklan dalam tayangan anak. Dalam iklan makanan kecil atau mainan Standar Program Siaran tidak mengatur lebih lanjut, hanya dalam pasal 49 terdapat aturan “Program siaran iklan wajib berpedoman pada Etika Pariwara Indonesia.”

Dalam Etika Pariwara Indonesia tentang iklan untuk anak tertulis pada point 1.27 hal 25 yang berbunyi :

  • (1.27.1) Iklan yang ditujukan kepada khalayak anak-anak tidak boleh menampilkan hal-hal yang dapat mengganggu atau merusak jasmani dan rohani mereka, memanfaatkan kemudahpercayaan, kekurang pengalaman, atau kepolosan mereka.

  • (1.27.2) Film iklan yang ditujukan kepada, atau tampil pada segmen waktu siaran khalayak anak-anak dan menampilkan adegan kekerasan, aktivitas seksual, bahasa yang tidak pantas, dan atau dialog yang sulit wajib mencantumkan kata-kata “Bimbingan Orangtua” atau simbol yang bermakna sama.”


Berdasarkan isi yang tertuang dalam Etika Pariwara Indonesia belum bisa menjelaskan secara spesifik penjabarannya. Salah satu contoh spesifik tentang iklan dalam tayangan anak adalah negara Australia. Negara ini memiliki etika iklan anak (Australian Association of National Advertisers Code for Advertising to Children 2008) yang salah satu isinya mengatakan : “iklan bagi anak untuk makanan dan minuman harus tidak mendorong atau mempromosikan gaya hidup tidak aktif atau kebiasaan makan/minum tidak sehat”. (Majalah Kidia Februari-April 2010, hal 18)

Dari beberapa uraian di atas dapat dilihat berbagai macam alasan kenapa iklan dapat berpengaruh kepada kesehatan anak. Solusi sederhana yang bisa diterapkan adalah pengawasan orang tua terhadap anak saat menonton televisi dan peran serta masyarakat untuk memberikan saran kepada pemerintah dalam pembuatan aturan yang spesifik tentang  penayangan iklan untuk anak-anak.

Semoga tulisan saya tentang "Pengaruh Iklan Makanan di Televisi terhadap Kesehatan Anak" dapat bermanfaat bagi masyakarat untuk lebih kritis terhadap media dan periklanan di Indonesia. Tulisan ini hanya bersifat opini, kurang atau lebihnya bisa ditambahkan melalui komentar. Terima kasih sudah membaca.

Bahan bacaan:

  • Yayasan Pengembangan Media Anak. (Edisi 24, 2010). Majalah Kidia :Rayuan Iklan TV Pada Anak.

  • Dewan Periklanan Indonesia. (September 2007). Etika Pariwara Indonesia.Jakarta : Dewan Periklanan Indonesia.


 

Comments