Awas! Iklan TV Dapat Mengubah Anak Menjadi Konsumtif

Kemajuan dunia hiburan di televisi Indonesia bisa dibilang sangat membanggakan. Ini terbukti makin banyaknya perusahaan televisi swasta yang berdiri di tanah air dan ratusan pilihan program tv yang layak tayang. Hanya dengan menggenggam satu remote control kita bisa menikmati beragam acara televisi dalam satu genggaman.

Pemilik media televisi pun semakin bersaing ketat supaya mampu bertahan di dunia pertelevisian dan segala macam cara mereka gunakan untuk menaikkan rating. Dari segi keuangan tentu ini bukan masalah yang mudah pula karena mereka juga membutuhkan dana supaya mampu membuat program siaran besar yang bisa menaikkan rating. Di sini lah iklan menjadi peran utama.

Iklan adalah pendapatan lembaga penyiaran paling tinggi. Meski ada kegiatan-kegiatan lain yang dapat menjadi sumber pendapatan bagi televisi, namun presentasenya jauh lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh dari menjual slot untuk iklan. Namun dari semuanya itu, saya sangat tergelitik tentang iklan khusus anak-anak yang sering disisipkan di acara-acara favorit mereka.

Dunia Televisi saat ini menyajikan beragam tayangan televisi untuk anak-anak, mulai dari film animasi terkenal produksi luar negeri atau dalam negeri. Tapi dari beragam acara tv yang menarik untuk anak-anak saat ini ternyata masih kalah mengasyikkan dengan iklan tv.

Bagaimana tidak, iklan memang diciptakan sangat menggoda untuk anak-anak dengan tampilan yang ekspresif, lagu yang ceria, dan penggunaan kalimat yang sangat akrab bagi anak-anak sehingga mudah dipahami. Tetapi, dari iklan ini lah anak menjadi konsumtif akan produk-produk yang ditawarkan dalam iklan.

Pengamatan YPMA (2010) menemukan bahwa terdapat lebih dari 30 sisipan iklan produk dalam sebuah tayangan anak yang panjangnya 30 menit (Majalah Kidia 2010, hal 3). Jadi bisa diartikan bahwa untuk tayangan anak dengan durasi 30 menit ternyata untuk isinya hanya 20 menit dan sisanya adalah iklan dengan durasi 10 menit. Itu untuk program biasa, bila semakin favorit program maka iklan yang ditampilkan akan semakin banyak.

Anak tidak sadar bahwa mereka sedang menonton iklan yang cukup banyak saat mereka menyaksikan film favorit mereka, karena pada umumnya iklan juga menampilkan sosok tokoh favorit mereka. Milton Chen dalam bukunya ‘Anak-anak dan Televisi’ mengatakan bahwa acara-acara TV komersial yang kita saksikan hanyalah umpan untuk mendekatkan kita pada iklan. (Majalah Kidia 2010, hal 3)

Anak-anak juga mudah dipengaruhi oleh janji dan gambar menarik yang disampaikan, misalnya saja seperti setelah mengkonsumsi produk yang ditawarkan sang anak bisa berlari cepat, terbang atau melakukan sesuatu yang heroik sehingga sang anak tertarik untuk membeli produk yang ditawarkan.

Mental anak masih belum bisa menerjemahkan makna iklan yang mereka lihat dan apa tujuan iklan itu dibuat. Pemikiran mereka belum bisa menilai bahwa itu sebenarnya hanyalah “iklan” dan tidak bisa terwujud di kehidupan nyata, dan ketika janji-janji yang ditayangkan oleh iklan sudah diterima, anak hanya bisa menerima dan menuntut orang tua agar hal itu bisa diwujudkan dengan membeli produk yang ada di iklan.

Sifat Anak-anak yang suka mengekspresikan diri juga menjadi faktor kenapa mereka sangat mudah terbujuk oleh iklan. Anak-anak paling suka bila menggunakan atau mengenakan produk yang bergambar tokoh favorit mereka. Contohnya saja mereka lebih suka memakai tas Dora the Explorer, kaos dengan gambar SpongeBob, jaket bergambar Ben 10 atau sepatu dengan lambang tokoh favorit mereka. Mereka merasa lebih bersemangat dalam melakukan segala hal saat mengenakan produk yang mereka pakai.

Salah satu contoh kasus nyata juga terjadi pada seorang anak bernama Billa (3 tahun) yang selalu menuntut dibelikan paket makanan berhadiah cepat saji, setiap kali iklannya tampil di layar kaca. Bahkan Billa juga rela mengganti merk bedak dan sabun mandinya, ketika iklan menunjukkan bahwa sebuah produk bedak menampilkan iklan dan memasang karakter SpongeBob di iklan dan label bedaknya (Majalah Kidia 2010, hal 3).

Kalau kita jeli melihat anak-anak di sekolah, mereka juga sangat suka melakukan perbandingan tokoh kartun yang mereka gunakan seperti tas, tempat pensil, atau sepatu. Beradu pendapat untuk menentukan pemilik dan produk manakah yang paling keren, bila saat itu mereka tidak bisa menjadi yang terpopuler maka mereka akan membeli produk yang lain meski sebenarnya hal itu tidak bermanfaat. Semua informasi tentang produk itu didapat anak dari berbagai iklan yang ditayangkan di televisi dan memikat anak untuk segera membelinya.

Dari beberapa uraian di atas dapat dilihat berbagai macam alasan kenapa anak mudah diracuni oleh iklan dan menyebabkan mereka menjadi generasi dengan budaya konsumtif. Solusi sederhana yang bisa diterapkan adalah pengawasan orang tua di rumah. Orang tua merupakan sosok yang paling dekat dengan anak, dari sini lah peran orang tua sangat dibutuhkan.

Orang tua bisa mengajak putra-putrinya untuk kritis terhadap iklan saat sedang menonton TV bersama, dengan melakukan pembicaraan yang sederhana dengan anak-anak akan membangun kemampuan kognitifnya untuk menilai apakah iklan yang mereka lihat itu masuk akal atau tidak. Jangan sampai kita membiarkan anak-anak menjadi generasi yang konsumtif dan membeli segala hal yang tidak bermanfaat.

 

Comments

  1. Iya euy, aku ingat masih kecil dulu, setiap kali nonton TV ada arstis yg pake baju bagus, aku selalu bilang ke orang tua " Ma, beliin baju itu ya nanti... " Terus di iya-iya in saja sama mamaku. Tapi gak pernah dibeliin tuh, hehehe dasar anak -anak... emang mudah terpengaruh...

    ReplyDelete
  2. Iya mbak, maka dari itu orang tua perlu mengajak putra-putrinya untuk kritis terhadap iklan saat sedang menonton TV. Terima kasih atas komentarnya, salam

    ReplyDelete

Post a Comment